The Soda Pop



Tidak seperti yang dia khawatirkan, Pak Jiyo yang dipanggil panglima pasukan diperlakukan dengan baik. Sama sekali tidak disiksa seperti yang dia ditakutkan, juga tidak dicurigai sebagai mata-mata, melainkan ditanya apakah malam peristiwa di kadipaten itu dia tidak melihat orang laki-laki muda tampan berbana Joko Lawu, dan seorang yang mengenakan kedok hitam. Senopati Surodigdo menjanjikan hadiah yang banyak kalau dia dapat memberi keterangan tentang dua orang itu. Pak Jiyo dengan tegas mengatakan bahwa dia tidak melihat mereka.
“Kalau benar andika tidak melihat mereka, sudahlah. Akan tetapi, kami harap andika suka membantu. Kalau andika melihat dua orang seperti yang kami gambarkan tadi, harap cepat memberi laporan kepada perajurit keamanan.” demikian pesan panglima itu setelah mengakhiri pemeriksaan itu. Pak Jiyo hampir tidak percaya akan nasib baiknya. Tadinya dia sudah merasa hampir putus asa. Dia sejak lama menjadi mata-mata Mataram, sengaja membuka warung di Ponorogo dan bertugas mengamati keadaan di kadipaten itu. Kemudian, dia pula yang pertama kali melaporkan akan gejala yang timbul, betapa Ponorogo menyusun kekuatan dan bermaksud memberontak kepada Mataram. Dia pula yang menampung semua penyelidik dari Mataram dan warungnya menjadi pusat pertemuan. Maka ketika dia dipanggil, tentu saja menduga bahwa rahasianya telah diketahui dan akan berakhirlah riwayatnya. Siapa kira, dia hanya ditanya tentang Joko Lawu dan orang berkedok yang membikin kacau di kadipaten!

Dia mendapatkan rumahnya tidak berubah. Akan tetapi ketika dia melongok ke dalam ruangan bawah tanah, dia terkejut dan cepat dia masuk ke dalamnya, meneliti bekas-bekas di tempat itu. Tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Tidak ada tanda bekas perkelahian atau sebagainya. Padahal ketika dia pergi, di situ terdapat si Jangir, seorang mata-mata yang datang malam tadi. Bahkan Jangir yang mengantar Joko Lawu keluar dari Ponorogo mencari tempat persembunyian lain di luar kota agar dia dapat leluasa bergerak. Malam tadi, Joko Lawu sudah meninggalkan warungnya dan kini bersembunyi di lembah sungai di selatan, sedangkan Jangir yang kini berada di warung. Ketika dia didatangi empat orang perajurit, Jangir cepat bersembunyi di dalam kamar bawah tanah. Kenapa sekarang dia tidak ada di situ? Jangir telah pergi dengan diam-diam, mungkin saja Jangir mengkhawatirkan keadaannya dan pergi menyelidiki, mengira dia ditangkap.

****

Joko Lawu duduk termenung di atas batu besar di dekat padang rumput lembah sungai itu. Usahanya membebaskan ayahnya telah gagal! Biarpun dia merasa kecewa dan menyesal sekali, namun hatinya lega melihat ayahnya dalam keadaan selamat dan sehat. Selama ayahnya dalam keadaan selamat dan dia sendiri masih bebas, masih ada harapan baginya untuk menyelamatkan ayahnya. Dia tidak akan pernah berhenti berusaha. Karena dia ingin segera mencoba lagi membebaskan ayahnya, maka bersembunyi di dalam kamar bawah tanah di warung Pak Jiyo membuat dia tidak tahan lagi. Dia harus keluar dan harus berusaha lagi. Oleh karena itu, ketika pada malam hari itu seorang anak buah ayahnya muncul, yaitu mata-mata yang bernama Jangir, dia diantar Jangir mencari tempat persembunyian baru, di luar kota. Malam tadi dia sudah melewatkan malam seorang diri di dalam sebuah gubuk di lembah sungai. Dan sore hari ini dia suda menanti munculnya Aji di padang rumput itu. Siapa lagi yang dapat dia harapkan bantuannya kecuali Aji? Setidaknya, dari pemuda yang mengabdi di kadipaten sebagai perawat kuda itu, dia akan mencari berita tentang keadaan ayahnya setelah terjadi percobaan membebaskan yang gagal itu. Juga dari Aji dia mengharapkan keterangan, siapa tahu pemuda itu dapat menceritakan siapa adanya orang berkedok hitam yang menolongnya, setidaknya dapat membantunya menduga-duga siapa orangnya. Dan mungkin saja Aji dapat menolongnya lagi, memberi jalan kapadanya agar di dapat menyelundup lagi ke dalam kadipaten. Pendeknya, dia tidak akan berhenti berusaha menolong ayahnya!
Tiba-tiba wajahnya berseri penuh harapan. Dia mendengar derap kaki kuda! Siapa lagi kalau bukan Aji yang datang bersama kuda-kuda yang digembalanya? Joko Lawu sudah bangkit berdiri dan dengan wajah berseri menanti datangnya orang yang sejak tadi dinanti-nantinya. Akan tetapi, alisnya berkerut ketika dia melihat tidak kurang dari lima orang penunggang kuda datang dari depan, membalapkan kuda mereka ke arah tempat ia berdiri. Dia merasa curiga dan selagi dia hendak pergi menyembunyikan diri, terdengar derap kuda dari kanan kiri dan ketika dia memandang, dari arah kanan dan kiri bermunculan pula banyak penunggang kuda. Dia sudah dihadang dari depan, kanan dan kiri, sedangkan di belakangnya adalah sungai! Tidak ada lagi jalan pelarian baginya. Terpaksa dia berdiri tegak, siap menghadapi banyak orang itu.

Betapa marahnya ketika sedikitnya dua puluh orang itu sudah berloncatan turun dan mengepungnya, dia melihat bahwa yang memimpin gerombolan itu bukan lain adalah Brantoko! Akan tetapi dia teringat bahwa dia dalam penyamaran. Dia tidak ingin dikenal sebagai Mawarsih, karena dia masih mempunyai tugas penting, yaitu membebaskan ayahnya. Kalau dia dikenal sebagai Mawarsih, tentu akan lebih sulit menolong ayahnya. Biarlah dia dikenal sebagai Joko Lawu dan tentu hanya akan dikira seorang di antara anak buah ayahnya yang hendak menolong pemimpinnya yang tertawan. Maka, diapun menahan kemarahannya melihat Brantoko yang sebetulnya masih ada hubungan perguruan dengannya. Ketika mereka semua sudah berdiri mengepungnya, diapun memben